Cara Order Buy Stop di Stockbit

Cara Order Buy Stop di Stockbit

Dalam trading saham, banyak orang fokus pada “kapan beli” tanpa memikirkan “bagaimana cara membeli”. Salah satu metode yang sering digunakan oleh trader berpengalaman adalah Buy Stop.

Metode ini terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap kualitas entry, terutama bagi Anda yang ingin mengikuti pergerakan harga tanpa harus menebak-nebak arah pasar.

Apa Itu Buy Stop?

Buy Stop adalah jenis order beli yang hanya akan tereksekusi jika harga mencapai level tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya, biasanya di atas harga saat ini.

Artinya, Anda tidak membeli sekarang, tetapi menunggu harga “membuktikan” bahwa ia benar-benar bergerak naik sebelum Anda ikut masuk.

Contohnya: jika harga saat ini di 1.000, Anda bisa memasang Buy Stop di 1.050. Order tersebut baru akan aktif jika harga menyentuh atau melewati 1.050.

Keunggulan Buy Stop

Salah satu keunggulan utama Buy Stop adalah membantu Anda menghindari entry terlalu cepat.

Banyak trader membeli saat harga masih bergerak sideways atau bahkan turun, dengan harapan harga akan naik. Namun dengan Buy Stop, Anda hanya masuk saat pasar benar-benar menunjukkan kekuatan.

Selain itu, Buy Stop juga membantu menjaga disiplin. Anda tidak perlu terus memantau chart atau tergoda untuk “klik buy” karena emosi.

Metode ini membuat keputusan menjadi lebih sistematis: jika kondisi terpenuhi, order tereksekusi. Jika tidak, Anda tetap di luar pasar.

Buy Stop untuk Riding The Wave

Buy Stop sangat efektif digunakan dalam strategi riding the wave, yaitu mengikuti tren yang sedang berjalan.

Dalam tren naik, harga sering membentuk pola higher high. Dengan menempatkan Buy Stop di atas resistance atau titik tertinggi sebelumnya, Anda ikut masuk ketika breakout terjadi.

Cara ini memungkinkan Anda masuk ke saham yang memang sedang kuat, bukan hanya saham yang “terlihat murah”.

Dengan kata lain, Anda tidak mencoba menebak titik terendah, tetapi memilih mengikuti momentum yang sudah terbukti.

Keuntungan Saat Tren Turun

Salah satu kelebihan Buy Stop yang sering diabaikan adalah: jika tren sedang turun, order Anda tidak akan tereksekusi.

Ini berarti Anda secara otomatis terhindar dari membeli saham yang masih berada dalam tekanan jual.

Banyak trader mengalami kerugian karena terlalu cepat masuk saat harga turun (catching a falling knife). Dengan Buy Stop, risiko tersebut bisa diminimalkan.

Anda hanya masuk ketika tren mulai berubah atau ketika harga menunjukkan tanda kekuatan yang jelas.

Buy Stop bukan sekadar teknik entry, tetapi cara berpikir dalam trading.

Alih-alih mencoba menebak arah pasar, Anda membiarkan pasar memberikan konfirmasi terlebih dahulu.

Metode ini sangat cocok bagi trader yang ingin lebih disiplin, menghindari entry prematur, dan fokus pada saham yang benar-benar bergerak.

Dalam jangka panjang, bukan siapa yang paling cepat masuk yang menang, tetapi siapa yang masuk pada momen yang tepat.

Aspek Buy Limit Buy Stop
Tujuan Utama Membeli di harga lebih rendah atau area koreksi. Membeli setelah harga menunjukkan kekuatan atau breakout.
Kelebihan Bisa mendapatkan harga entry lebih murah. Membantu masuk saat momentum sudah terbukti.
Kekurangan Harga bisa terus turun setelah order tereksekusi. Harga entry bisa lebih mahal karena membeli setelah naik.
Risiko Utama Terjebak membeli saham yang masih dalam tren turun. Terjebak false breakout jika kenaikan tidak berlanjut.
Kapan Cocok Digunakan Saat harga sedang koreksi, pullback, atau mendekati support. Saat harga mendekati resistance dan berpotensi breakout.
Jika Harga Turun Order berpotensi tereksekusi. Order tidak tereksekusi, sehingga bisa menghindari entry prematur.
Jika Harga Langsung Naik Order bisa tidak tereksekusi dan peluang terlewat. Order berpotensi tereksekusi dan ikut momentum kenaikan.
Cocok untuk Strategi Buy on Weakness, averaging, value area entry. Riding the Wave, breakout trading, trend following.
Karakter Trader Lebih sabar menunggu harga murah. Lebih fokus pada konfirmasi kekuatan harga.

Buy Stop adalah metode membeli saham hanya ketika harga berhasil mencapai level tertentu yang sudah kita tentukan sebelumnya. Tujuannya bukan membeli saat harga masih turun, tetapi masuk ketika pergerakan harga mulai menunjukkan tanda kekuatan atau breakout. Berikut contoh cara menggunakan Buy Stop dengan metode Limit If Touched.

Cara Order Buy Stop Di Stockbit

Pilih Saham yang Ingin Dibeli

Pertama, pilih emiten yang ingin dibeli.

Dalam contoh ini kita menggunakan saham BBRI.

Setelah masuk ke halaman order, klik menu Buy untuk mulai membuat transaksi pembelian.

Ubah Jenis Order

Secara default, biasanya order menggunakan tipe normal.

Untuk membuat Buy Stop, klik bagian Order Type, lalu ubah jenis order menjadi:

Limit If Touched

Pahami Arti “Limit If Touched”

Limit If Touched berarti order baru akan aktif ketika harga saham menyentuh level tertentu yang sudah kita tentukan sebelumnya.

Jadi order belum langsung masuk ke pasar.

Order hanya “menunggu” sampai harga mencapai area trigger yang kita inginkan.

Dalam konteks Buy Stop, metode ini sering digunakan untuk membeli saham saat harga mulai bergerak naik menembus area tertentu.

Pastikan Order Sudah Berubah Menjadi Limit If Touched

Setelah memilih jenis order, pastikan status order sudah benar-benar berada pada mode:

Limit If Touched

Ini penting karena logika order akan berbeda dengan order biasa.

Atur Trigger Price

Pada bagian Trigger Price, kita menentukan kapan order mulai aktif.

Dalam contoh ini:

- Symbol kondisi diubah menjadi lebih besar atau sama dengan
- Trigger Price diisi 3.300

Artinya:

Order baru akan aktif ketika harga BBRI mencapai 3.300 atau lebih.

Sebelum harga menyentuh level tersebut, order masih “tidur” dan belum masuk ke antrean pasar.

Tentukan Harga Pembelian Setelah Trigger Aktif

Setelah trigger tersentuh, kita harus menentukan di harga berapa kita bersedia membeli saham tersebut.

Dalam contoh ini:

Harga order diisi 3.350

Artinya:

Ketika harga BBRI berhasil menyentuh 3.300, kita bersedia langsung membeli sampai area 3.350.

Ini sering disebut sebagai:

HAKA (Hajar Kanan)

atau bersedia membeli mengikuti harga pasar saat momentum mulai bergerak naik.

Tetapi harga order juga bisa diisi lebih rendah.

Misalnya:

- Trigger aktif di 3.300
- Tetapi order pembelian dipasang di 3.250

Artinya kita berharap setelah breakout terjadi, harga sempat turun kembali sehingga kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Di sinilah pentingnya memahami konteks pasar.

Saat menentukan harga order, coba bayangkan:

“Jika nanti harga benar-benar berada di 3.300, apa yang ingin saya lakukan?”

- Apakah langsung ikut membeli?
- Atau masih ingin antre lebih bawah?

Karena keputusan ini akan menentukan apakah order mudah tereksekusi atau justru tertinggal ketika harga bergerak cepat.

Atur Expiry Menjadi GTC

Pada bagian Expiry, pilih:

GTC (Good Til Cancelled)

Artinya order akan tetap aktif dalam jangka waktu panjang sampai:

- order terpicu
- atau dibatalkan secara manual

Dalam beberapa broker, GTC bisa aktif hingga sekitar 6 bulan.

Jadi jika BBRI belum pernah menyentuh harga 3.300, order tetap akan menunggu.

Klik Buy untuk Mengaktifkan Buy Stop

Setelah semua pengaturan selesai:

- Trigger Price sudah benar
- Harga order sudah sesuai
- Expiry sudah diatur

Maka klik Buy.

Setelah itu, sistem akan menunggu hingga kondisi trigger tercapai.

Ketika harga BBRI mencapai level yang sudah ditentukan, order Buy Stop akan aktif dan masuk ke pasar sesuai harga yang sudah diatur sebelumnya.

Buy Stop digunakan untuk membeli saham ketika harga mulai menunjukkan kekuatan, bukan ketika harga masih turun tanpa arah yang jelas.

Dengan metode ini, kita tidak perlu terus-menerus memantau chart setiap saat, karena sistem akan membantu mengeksekusi order ketika kondisi yang kita inginkan benar-benar terjadi.

Intinya, Buy Stop bukan sekadar cara membeli saham, tetapi cara menunggu momentum dengan lebih disiplin dan terstruktur.

Kalau Buy Stop adalah "Riding The Wave" maka kebalikannya adalah Buy Limit "Buy On Weaknes"

Stop stop yang lain yang wajib dibaca -> Stop Loss : Metode Brilian Untuk Taking Profit